Rabu, 27 Februari 2008

TES DAN PEGUKURAN OLAHRAGA

PENGERTIAN DAN HUBUNGAN ANTARA TES, PENGUKURAN, DAN EVALUASI

Tes, Pengukuran, dan Evaluasi merupakan tiga istilah yang berbeda namun saling berhubungan. Banyak orang tidak mengetahui secara jelas perbedaan dan hubungan di antara ketiganya, sehingga istilah tersebut sering tidak tepat penggunaannya. Agar jelas berikut ini akan diuraikan perbedaan dan hubungan antara tes, pengukuran, dan evaluasi.

Tes adalah instrumen atau alat yang digunakan untuk memperoleh informasi tentang individu atau objek. Sebagai alat pengumpul informasi atau data, tes harus dirancang secara khusus. Kekhususan tes terlihat dari bentuk soal tes yang digunakan, jenis pertanyaan, rumusan pertanyaan yang diberikan, dan pola jawabannya harus dirancang menurut kriteia yang telah ditetapkan. Demikian juga waktu yang disediakan untuk menjawab pertanyaan serta pengadministrasian tes juga dirancang secara khusus. Selain itu aspek yang diteskanpun terbatas. Biasanya meliputi ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Kekhususan-kekhususan tersebut berbeda antara satu tes dengan tes yang lain. Tes ini dapat berupa pertanyaan tertulis, wawancara, pengamatan tentang unjuk kerja fisik, checklist, dan lain-lain.

Pengukuran adalah proses pengumpulan data atau informasi yang dilakukan secara objektif. Melalui kegiatan pengukuran segala program yang menyangkut perkembangan dalam bidang apa saja dapat dikontrol dan dievaluasi. Hasil pengukuran berupa kuantifikasi dari jarak, waktu, jumlah, dan ukuran dsb. Hasil dari pengukuran dinyatakan dalam bentuk angka yang dapat diolah secara statistik.

Evaluasi selalu dilaksanakan dengan merujuk kepada tujuan yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan. Evaluasi merupakan proses pemberian pertimbangan atau makna mengenai nilai dan arti dari sesuatu yang dipertimbangkan. Sesuatu yang dipertimbangkan tersebut dapat berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau suatu kesatuan tertentu.

Dengan kata lain evaluasi adalah proses penentuan nilai atau harga dari data yang terkumpul. Pemberian pertimbangan mengenai nilai dan arti tidak dapat dilakukan secara sembarangan, oleh karenanya evaluasi harus dilakukan berdasar prinsip-prinsip tertentu.

Setelah kita mengetahui perbedaan tentang tes, pengukuran, dan evaluasi kita dapat mengetahui hubungan di antara ketiganya.

Dari gambar di atas jelas bahwa tes adalah bagian yang integral dari pengukuran, dengan demikian tes dan pengukuran adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi tidak demikian halnya antara pengukuran dan evaluasi.. Pengukuran menyediakan sarana yang dapat digunakan untuk mengumpulkan informasi yang diperlukan, tes adalah alat atau instrunem yang digunakan untuk mengumpulkan informasi. Evaluasi adalah proses memberikan nilai atau harga dari data yang terkumpul. Melalui pengukuran data kuantitatif diproses dan dinilai hingga menjadi nilai yang bersifat kualitatif. Data yang terkumpul digunakan sebagai bahan informasi untuk mengambil keputusan (apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai?, apakah anak didik memperoleh kemajuan yang berarti? dsb). Evaluasi harus merupakan kegiatan yang harus dilakukan terus menerus dari setiap program, karena tanpa evaluasi sulit untuk mengetahui jika, kapan, dimana, dan bagaimana perubahan-perubahan akan dibuat.
Evaluasi tidak hanya terbatas dalam menggambarkan pengertian untuk menggambarkan status seseorang dibandingkan dengan anggota kelompok lainnya. Tetapi yang lebih penting, evaluasi dilaksanakan dalam rangka menggambarkan kemajuan yang dicapai oleh seseorang. Karena itu evaluasi harus dipahami sebagai bagian yang integral dari penyelenggaraan sebuah program, yang selalu berawal dari pemahaman terhadap siswa.

Tujuan Pengukuran dan Evaluasi

Pengukuran dan evaluasi dalam bidang pendidikan pada umumnya dan keolahragaan khususnya mempunyai peranan yang sangat penting. Pengukuran dan evaluasi tersebut bertujuan untuk:
(1) pengelompokkan,
(2) penilaian
(3) motivasi
(4) penelitian.
Penentuan ini dapat digunakan untuk menentukan tingkat, membebaskan peserta dari suatu kesatuan pelajaran, menaikkan peserta dari suatu tingkat ke tingkat yang lebih tinggi, memberikan umpan balik untuk memperbaiki unjuk kerja, menempatkan individu-individu ke dalam kelompok-kelompok tertentu atau menentukan suatu bentuk latihan yang khusus. Pada pokoknya, penentuan status mencakup semua tujuan-tujuan lain pengukuran dan evaluasi.

1. Pengelompokkan.

Salah satu tujuan pengukuran dan evaluasi adalah untuk pengelompokan. Pengelompokkan ini dapat berdasarkan tingkat ketrampilan, umur, jenis kelamin, kondisi kesehatan, minat. Sebagai upaya untuk memperbaiki proses pembelajaran, guru dapat menempatkan siswanya ke dalam kelompok-kelompok tertentu, sesuai dengan tingkat kemampuannya. Siswa dengan kemampuan yang tinggi tidak harus dipaksa bertahan dengan teman sekelompoknya yang berkemampuan kurang, demikian juga sebaliknya. Dengan dilakukannya pengukuran dan evaluasi siswa dapat dikelompokkan pada kelompok yang tepat.

Jika siswa ditempatkan dalam kelompok yang setara tingkat ketrampilannya, guru dapat menyusun program pelajaran secara individual. Keuntungan lain yang diperoleh dari pengelompokkan ini adalah siswa dapat berani, lebih lancar, lebih aktif ketika berlatih, karena mereka bersaing dengan siswa lain yang berkemampuan setara. Dengan kata lain, tujuan penempatan siswa ke dalam kelompok yang setara adalah untuk memperbaiki proses pembelajaran.


2. Penilaian

Tujuan utama dari penilaian ini adalah memberikan informasi tentang kemajuan yang dicapai dari proses pembelajaran yang dikerjakan dan posisi siswa di dalam kelompoknya. Dengan mempertimbangkan seluruh faktor, penilaian harus dilakukan secara objektif sehingga dapat mencerminkan kemajuan yang diperoleh, dan perbaikan-perbaikan yang diperlukan.


3. Motivasi

Motivasi merupakan kekuatan yang memandu seseorang untuk mencapai hasil yang tertinggi. Apabila dilaksanakan secara tepat, evaluasi dapat merupakan proses memotivasi yang positif. Demikian pula sebaliknya, bila dilakukan secara sembarangan evaluasi dapat mengurangi motivasi.

Motivasi yang terbesar adalah keberhasilan. Agar supaya siswa tetap memiliki motivasi, mereka harus mengetahui bahwa dirinya berkembang kemampuannya. Tes-tes ketrampilan olahraga memungkinkan siswa untuk berkompetisi dengan dirinya sendiri sebagai cara untuk mengukur kemajuannya.

4. Penelitian.

Penelitian adalah penyelidikan yang dilakukan secara sistematis untuk meningkatkan ilmu pengetahuan. Mutu data yang dikumpulkan bergantung pada antara lain: ketelitian dan ketepatan alat ukur, teknik pengukuran, dan kelayakan tes.

Dengan menggunakan tes unjuk kerja fisik dalam penelitian, dapat membantu guru/pelatih dalam menyusun program latihan yang tepat, membantu memecahkan masalah-masalah dalam proses pembelajaran, dan memperbaiki program latihan yang telah dijalankan. Dengan demikian penelitian dapat dianggap sebagai sarana. Dengan penelitian tumbuh pengetahuan yang dapat dikembangkan. Pengetahuan bergantung pada informasi yang tepat dan seksama atau data yang dikumpulkan melalui prosedur pengukuran yang direncanakan dengan hati-hati. Informasi dari data yang dikumpulkan untuk tujuan-tujuan penelitian harus dievaluasi akan keberartiannya. Jadi suatu tujuan yang penting dari pengukuran dan evaluasi adalah menyediakan sarana-sarana yang diperlukan untuk mengadakan penelitian.




Ranah (Domain) yang diukur

Dalam pendidikan jasmani atau lingkup olahraga, pengukuran dilakukan pada ranah:

1. Pengukuran ranah kognitf

Pengukuran pada ranah ini dilakukan untuk mengukur pengetahuan yang dimiliki sehubungan dengan teknik, peraturan, dan stretegi-strategi olahraga, konsep sehubungan dengan pengembangan dan cara mempertahankan kesegaran jasmani, cara pencegahan cedera, dll.

2. Pengukuran ranah efektif

Pengukuran pada ranah ini mengukur minat, perhatian, sikap, perasaan, dan nilai dalam hubungannya dengan aktivitas fisik yang bermakna. Selain itu juga mengukur sifat agresif, ketagihan berkatih, dan kecemasan dalam menghadapi kompetisi.

3. Pengukuran ranah psikomotor

Pengukuran dalam ranah ini mengukur keterampilan motorik, perkembangan motorik, dan kesegaran jasmani Pada umumnya tes psikomotor meliputi dua hal: produk performa motorik (kecepatan, kekuatan, keajegan servis, dll) dan proses pelaksanaan performa pola yang digunakan untuk melakukan servis badminton misalnya.

Teknik Pengukuran

Data hasil pengukuran dapat diperoleh melalui berbagai teknik tes dan non tes. Teknik-teknik tersebut ada menghasilkan data numerik (angka) yang bersifat kuantitatif yang dapat dianalisis secara statistik, ada pula yang menghasilkan data kualitatif. Secara ringkas teknik-teknik pengukuran tersebut dapat dipelajari pada gambar 1.3a dan 1.3b. Dalam buku ini hanya akan sedikit diuraikan beberapa teknik pengukuran. Secara lebih jelas, dapat dipelajari dalam buku Evaluasi dalam Penjas/Olahraga



Tes Tindakan atau Kinerja Motorik

Pada umumnya, tes tindakan atau kinerja motorik selalu disertai petunjuk pelaksanaan tes. Pengguna tes harus benar-benar mengikuti petunjuk pelaksanaan tes yang telah ada. Produk dari kinerja motorik misalnya kemampuan gerak dasar, keterampilan basket, service tennis, vertical power jump, dll.


Skala Rating, Checklist

Skala, checklist digunakan untuk mengungkap minat, sikap, tingkah laku, kebiasaan, perkembangan, atau kematangan tingkah laku.


Tes Tulis

Teknik pengukuran ini memerlukan jawaban tertulis dari testi. Terdapat dua jenis tes tulis, yakni tes objektif dan esai (uraian).

Tes objektif mengandung pertanyaan-pertanyaan yang sudah terstruktur dengan sempurna. Peserta tes tidak perlu melahirkan ide, dan tidak dituntut adanya kemampuan mengorganisasikan jawaban. Pada umumnya, tes bentuk objektif telah menyiapkan jawaban-jawaban untuk dipilih. Peserta tes hanya perlu mengenal jawaban yang dianggap benar.


Pada umumnya tes bentuk esai (uraian) berupa pertanyaan-pertanyaan yang mengandung permasalahan, dan memerlukan pembahasan, uraian, atau penjelasan sebagai jawabannya. Ciri khas tes ini adalah siswa bebas memberikan jawabannya. Siswa bebas memilih pendekatan yang dianggap tepat dalam menyelesaikan permasalahan yang ditanyakan, menyusun dan mengorganisasikan jawabannya sendiri, serta memberikan penekanan-penekanan terhadap aspek jawaban. Oleh sebab itu tes bentuk esai memberikan peluang bagi peserta tes untuk menyatakan, melahirkan, dan mengintegrasikan ide-idenya. Yang perlu diperhatikan dalam penyusunan butir-butir soal bentuk ini adalah perumusan masalah yang dikemukakan. Rumusan tujuan hendaknya sangat jelas sehingga setiap peserta tes dapat menangkap masalah yang dikemukakan tepat seperti yang dimaksud oleh penyusun tes. Untuk maksud tersebut, dalam merumuskan tujuan biasanya digunakan kalimat-kalimat yang dapat memperjelas masalah yang dikemukakan.


Kuisioner dan Wawancara

Dengan alat ukur ini tester dapar memperoleh informasi atau data secara langsung dari individu mengenai status saat ini parihal kelakuan, keyakinan, sikap, minat, dll. Kuisioner terdiri atas rangkaian pertanyaan dalam bentuk tertulis yang harus dijawab oleh responden. Apabila rangkaian pertanyaan tersebut disampaikan secara lisan, dan menuntut jawaban secara lisan, dinamakan wawancara.


Prinsip-prinsip Pengukuran dan Evaluasi.

Yang dimaksud dengan prinsip di sini adalah panduan atau tuntunan dalam melakukan kegiatan pengukuran dan evaluasi agar tercapai fungsi yang diharapkan. Untuk menetapkan dan melaksanakan suatu program evaluasi yang berhasil, kita harus mengetahui beberapa prinsip-prinsip sebagai berikut:

1. Suatu program pengukuran dan evaluasi harus selaras dengan landasan falsafah pendidikan dan kebijakan lembaga pendidikan yang bersangkutan.Hal ini penting untuk mencegah terjdinya konflik dan bermanfaat untuk memperlancar dukungan serta kerjasama baik di antara guru pendidikan jasmani maupun antara guru dengan pimpinan.

2. Pengukuran harus dilakukan berdasar tujuan program dan dilaksanakan dalam rangka pengembangan atau penyempurnaan tujuan. Dengan demikian tujuan yang ingin dicapai harus jelas, demikian juga pentahapannya harus sesuai dengan hukum pertumbuhan dan perkembangan anak. Evaluasi merupakan alat untuk mengendalikan program agar tepat sasarannya.

3. Testing adalah bagian dari pengukuran, dan pengukuran merupakan bagian dari evaluasi. Testing bertujuan untuk menyediakan informasi yang akan digunakan untuk keperluan evaluasi.

4. Hasil testing harus ditafsirkan dalam konteks perkembangan individu secara menyeluruh yang mencakup aspek fisik, intelektual, emosional, sosial, dan moral. Prinsip ini berhubungan dengan pemilihan alat ukur atau tes yang akan digunakan, pembatasan ruang lingkup untuk setiap tingkatan kelas atau jenjang pendidikan.

5. Testing dalam pendidikan jasmani dan kesehatan berawal dari anggapan dasar bahwa semua atribut pada seseorang dapat dites dan diukur. Selain dimensi fisik atau ketrampilan, kemampuan kognitif yang menyangkut pengetahuan atau pemecahan masalah, dan dimensi afektif yang menyangkut sifat kepribadian, semuanya pada dasarnya dapat diukur atau dites. Namun atribut yang dites itu hanya berupa cuplikan atau sample yang dianggap dapat mewakili sifat yang dimaksud secara keseluruhan. Dalam pendidikan jasmani dan kesehatan, kita tidak pernah memperoleh skor absolut karena selalu ada galat atau penyimpangan dari skor yang sebenarnya. Dengan kata lain, skor yang diperoleh adalah skor yang sebenarnya bitambah dengan penyimpangannya.

6. Kemampuan awal siswa harus diketahui untuk selanjutnya dibandingkan dengan hasil tes dalam kesempatan berikutnya. Selisih antara tes awal dan tes akhir menunjukkan perubahan dalam bentuk skor perolehan, atau paparan deskriptif.

7. Mutu tes atau alat ukur harus diperhatikan karena akan mempengaruhi mutu data yang diperoleh. Mutu evaluasi bergantung pada mutu data, dan mutu data bergantung pada mutu tes atau alat ukur. Oleh karenanya tes yang dipilih harus valid, reliabel. Tentang kriteria memilih tes akan dipaparkan pada bab 2.




Tipe-tipe Evaluasi

1. Evaluasi Formatif dan Sumatif

Berdasar saat pelaksanaan dan kegunannya, evaluasi dapat dibedakan menjadi:evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif bertujuan untuk menyempurnakan program dan memantau kemajuan siswa. Evaluasi ini dilakukan di sela-sela program yang sedang berlangsung, dengan tujuan agar hasilnya dapat digunakan untuk menyempurnakan program. Pelaksanaan tes secara periodik dan dilakukan beberapa kali, seperti tes mingguan, bulanan.

Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilaksanakan pada akhir suatu program, misalnya akhir catur wulan, akhir semester. Nilai yang diperoleh pada evaluasi sumatif biasanya dilaporkan dalam bentuk rapor, sementara hasilnya dinyatakan dalam bentuk nilai tertentu atau dalam bentuk laporan secara deskriptif.


2. Evaluasi produk dan Evaluasi Proses

Berdasar atas tujuan-tujuan khusus program, kita dapat menekankan perhatian kita pada produk yang dihasilkan dari unjuk kerja fisik, proses yang menghasilkan produk, atau keduanya. Misalnya, dalam evaluasi produk, menentukan urutan hasil akhir dalam perlombaan lari 10 Km hanya memerlukan catatan waktu seorang pelari yang diperlukan untuk menempuh jarak perlombaan. Apabila nita menaruh minat untuk memperbaiki gaya lari para pelari, maka kita perlu menganalisa proses terjadinya gerak lari, termasuk aspek-aspek seperti penempatan kaki pelari, ayunan lengan, panjang langkah, kecondongan tubuh dan sebagainya. Hal ini merupakan evaluasi proses. Untuk sebagian besar aktivitas, kita menaruh perhatian terhadap keduanya baik evaluasi produk maupun proses. Beberapa aktivitas misalnya senam, lebih banyak memberi kemungkinan untuk evaluasi proses daripada evaluasi produk. Apakah kita memilih untuk mengevaluasi produk atau proses atau keduanya dari suatu unjuk kerja, maka hal tersebut akan menentukan jenis tes yang akan kita pilih atau susun.

3. Evaluasi Acuan Patokan dan Acuan Norma

Guru, merasa perlu untuk menafsirkan arti informasi atau data yang hasil pengetesan. Misalnya pada sebuah kelas yang terdiri atas 40 orang siswa. Siswa A memperoleh nilai 25 dalam tes kesegaran jasmani untuk butir tes push-up. Apa arti nilai 25 tersebut?

Apabila yang diterapkan evaluasi acuan norma, maka yang digunakan sebagai kriteria adalah norma kelompok. Misalnya kemampuan rata-rata 40 siswa dalam push-up adalah 20 kali, maka berdasarkan rata-rata tersebut kemampuan siswa A dapat ditafsirkan. Ini berarti, jika dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya kemampuan siswa A berada di atas rata-rata.

Evaluasi acuan patokan menggunakan patokan baku sebagai rujukannya. Misalnya seorang Dosen menetapkan bahwa agar dapat lulus pada nomer lari 100 meter, seorang mahasiswa harus dapat menempuhnya dalam waktu tidak lebih dari 13,5 detik. Penetapan Patokan sering menimbulkan masalah, terutama tentang batas patokan. Untuk menetapkan batas patokan harus dipertimbangkan derajad penguasaan dikaitkan dengan pertumbuhan dan perkembangan siswa.

Kedua pendekatan di atas, masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan. Penggunaan evaluasi acuan norma memberikan peluang kepada siswa untuk berhasil, namun sebaliknya dapat menimbulkan dampak yang negatif, karena siswa dipersaingkan di dalam kelompoknya. Siswa yang memang lemah kemampuanyya, akan selalu berada di posisi yang rendah dan tidak pernah mengalami sukses.

Evaluasi acuan patokan lebih unggul dalam hal pemaparan penguasaan materi, karena siswa dituntut untuk dapat memiliki kemampuan dengan tingkat tertentu. Kelemahannya adalah patokan yang digunakan bergantung pada pertimbangan guru yang bersangkutan.