Rabu, 04 November 2009

MAKALAH BINA KESEHATAN KERJA


TUGAS MAKALAH
MATA KULIAH PENDIDIKAN KESEHATAN SEKOLAH

JUDUL
“ BINA KESEHATAN KERJA “


Diusulkan oleh:
Imam Wahyudin (076474222/2007/D)


JURUSAN PENDIDIKAN KEPELATIHAN OLAHRAGA FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2009
KATA PENGANTAR


Rasa syukur yang dalam saya sampaikan ke hadiran Tuhan Yang Maha Pemurah, karena berkat kemurahanNya makalah ini dapat saya selesaikan sesuai yang diharapkan. Dalam makalah ini saya membahas “Bina Kesehatan Kerja”, sebagai bentuk usaha dalam menambah wawasan mengenai kesehatan.
Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam pemahaman ilmu kesehatan, harapan saya semoga dengan makalah ini kita dapat menambah wawasan menganai kesehatan. Tidak lupa saya ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Makalah ini tentunya tidak luput dari kesalahan dan kekurangan kritik dan saran yang bersifat membangun amatlah saya harapkan.
Demikian makalah ini saya buat semoga bermanfaat,

Surabaya, 4 Oktober 2009
Penyusun’



Imam Wahyudin
076474222





DAFTAR ISI

A. Pendahuluan
B. Perkembangan dan Kopetensi SKM
C. Upaya Kesehatan Kerja
D. Peran SKM dalam Kesehatan Kerja
E. Penutup
F. Daftar Pustaka









BINA KESEHATAN KERJA
Oleh : Imam Wahyudin

A. Pendahuluan

Tidak bisa dipungkiri kualitas sumber daya manusia sangat menentukan keberhasilan pembangunan dan kemajuan sebuah bangsa. Pembangunan di Indonesia yang tengah berlangsung saat ini dihadapkan pada berbagai situasi global dan regional serta kondisi yang terjadi di tanah air baik secara politik, hukum, ekonomi, sosial budaya dan lain-lain, termasuk adanya fenomena alam. Perkembangan global, regional dan nasional menunjukkan adanya kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang memberi manfaat sekaligus memberi dampak negatif. Fenomena alam seperti kejadian gempa bumi dan tsunami, kekeringan dan kebakaran hutan merupakan bagian dari persoalan nasional yang memerlukan perhatian, khususnya yang berkaitan dengan upaya penanggulangan dan pencegahannya. Pembangunan sumber daya manusia untuk mendukung upaya pembangunan nasional kini juga dihadapkan beragam persoalan, seperti kondisi ekonomi nasional belum sepenuhnya pulih, daya beli masyarakat masih rendah, semakin bertambahnya angkatan kerja setiap tahun, jumlah pengangguran cukup tinggi dan persaingan antar bangsa semakin ketat. Namun demikian, berdasarkan Index Pembangunan Masyarakat (HDI) dengan 3 indikator utama (indikator kesehatan, tingkat pendidikan dan indikator ekonomi) menunjukkan adanya kemajuan di bidang pembangunan nasional di kawasan Asia Tenggara. Data UNDP (2000) menunjukkan pencapaian pembangunan kesehatan tidak sama di semua negara. Nilai HDI sangat tinggi dicapai negara Singapura dan Brunei Darussalam. Indonesia mencapai nilai HDI medium bersama negara Malaysia, Thailand, Filipina, Sri Lanka, Maldives, Myanmar, Chili dan India. Nilai HDI rendah diperoleh negara kamboja, Laos, Bhutan, Nepal dan Bangladesh (Rahmat, 2003).

Terlihat bahwa pembangunan sumber daya manusia Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional hingga saat masih memprioritaskan pada pendidikan dasar dan menengah, misalnya kebijakan dana Bantuan Operasional Sekolah “BOS”, Sekolah Gratis dan Pendidikan Dasar Wajib 9 tahun. Pada pendidikan tinggi justru dirasakan semakin mahal dan mengarah pada komersialisasi pendidikan, baik pendidikan tinggi negeri maupun swasta. Misalnya dengan kebijakan perubahan status beberapa perguruan tinggi negeri, seperti UI, UGM, ITB dan lain-lain menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Sementara secara kualitas, di bandingkan dengan negara-negara lain mutu pendidikan tinggi di Indonesia relatif masih di urutan bawah. Terlepas dari masalah tersebut, terdapat fenomena menarik dalam kurun waktu dasawarsa terakhir ini, yaitu mengenai pendidikan tinggi, khususnya di bidang kesehatan. Sejarah perkembangan pendidikan di dunia kesehatan memang sejak awal didominasi oleh upaya pengobatan sehingga banyak dikenal umumnya di bidang medis (kedokteran) dengan profesi-profesi medis dan paramedis, seperti dokter, perawat dan bidan. Sejalan dengan itu, banyak muncul pendidikan yang melahirkan profesi tersebut. Di Indonesia cukup banyak di buka fakultas kedokteran di beberapa perguruan tinggi, akademi-akademi keperawatan dan kebidanan. Bidang kesehatan lain yang kemudian berkembang sangat pesat saat ini adalah bidang kesehatan masyarakat. Pada tahun 1996 hanya terdapat 5 perguruan tinggi negeri yang membuka fakultas kesehatan masyarakat, yakni UI, UNAIR, UNDIP, USU dan UNHAS ditambah 2 perguruan tinggi swasta, yaitu perguruan tinggi Muhammadiyah di Aceh dan Jakarta. Dengan digencarkannya paradigma baru pembangunan bidang kesehatan, yaitu paradigma sehat selanjutnya pada tahun 1997 hingga sekarang banyak sekali pendidikan tinggi kesehatan masyarakat dalam bentuk fakultas di bawah universitas maupun program studi di bawah fakultas ilmu-ilmu kesehatan, fakultas kesehatan masyarakat, fakultas kedokteran dan ilmu kesehatan maupun sekolah-sekolah tinggi. Sejak tahun 2003 berdiri Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI) yang menghimpun berbagai pendidikan tinggi yang membuka program kesehatan masyarakat dengan lulusan bergelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM). Data AIPTKMI (2005) memperlihatkan jumlah Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia sampai tahun 2005 melebihi 50 buah.

Data kesehatan di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan angka harapan hidup (tahun 1990 = 64,3 tahun, pada tahun 2000 mencapai 66 tahun), penurunan angka kematian bayi, penyakit endemis (cacar, polio, cacing dan lepra), munculnya kembali beberapa penyakit menular, penyakit infeksi akut dan kronis (HIV/AIDS, TB, Kanker, Diabetes, SARS, Flu Burung), kesenjangan cakupan imunisasi, gizi buruk, upaya-upaya Primary Health Care dan Millenium Development Index (perbaikan gizi, air bersih, KIA, pemberantasan penyakit menular dan pencukupan obat esensial). Khusus di tempat kerja atau industri muncul masalah-masalah kesehatan, diantaranya adalah sebagai dampak dari pemakaian bahan-bahan material berbahaya, proses produksi, limbah dan sistem kerja atau lingkungan kerja yang tidak ergonomis selalu ada dalam bentuk gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja. Kita menghadapi tantangan pembangunan kesehatan berupa transisi demografi & epidemiologi, kecenderungan meningkatnya penyakit degeneratif, penyakit pembuluh darah, penyakit jantung, penyakit akibat gizi yang kurang seimbang, masih kurangnya perilaku hidup sehat sebagian masyarakat, serta tuntutan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang bermutu, ancaman penyakit menular, HIV/AIDS serta dalam bentuk penyakit akibat kerja dan penyakit yang berhubungan dengan kerja/pekrjaan. Departemen Kesehatan telah menetapkan sasaran pembangunan kesehatan yang mencakup lingkungan sehat, perilaku sehat, pemberdayaan masyarakat, peningkatan upaya kesehatan, perbaikan gizi masyarakat, meningkatkan sumber daya kesehatan, pengawasan obat, makanan & bahan berbahaya, peningkatan kebijakan & manajemen pembangunan kesehatan. Selain itu, Departemen Kesehatan secara khusus juga telah menetapkan upaya kesehatan di tempat kerja yang tercantum dalam Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan.

Berdasarkan uraian di atas, tergambar adanya masalah-masalah kesehatan yang ada saat ini dan upaya atau program pembangunan bidang kesehatan, khususnya di tempat kerja yang sedang dilakukan dan adanya kecenderungan pengembangan dengan pesat tenaga kesehatan, yaitu Sarjana Kesehatan Masyarakat. Dalam tulisan ini diuraikan mengenai pentingnya pemberdayaan dan peran Sarjana Kesehatan Masyarakat dalam upaya kesehatan, khususnya upaya kesehatan kerja.






B. Perkembangan dan Kompetensi SKM

Melihat perkembangan bidang keilmuan kesehatan masyarakat di Indonesia tidak terlepaskan dari sejarah berdirinya Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Jurusan bagian kesehatan masyarakat Fakultas Kedokteran UI merupakan cikal bakal lahirnya FKM UI. Pada tanggal 1 juli 1965 di UI dibuka program pascasarjana berupa Master of Public Health dengan lulusan bergelar Sarjana Kesehatan Masyarakat. Jadi, SKM pada saat itu merupakan lulusan program pascasarjana atau setara dengan MPH (Master of Public Health) di luar negeri. Baru pada tahun 1972 berdiri FKM UI. Tahun 1985 dan tahun 1990 diselenggarakan pertemuan antara UI, UNAIR, UNDIP, UNHAS dan USU membahas pengembangan fakultas/keilmuan kesehatan masyarakat. Seperti digambarkan di awal bahwa semenjak tahun 1996 sampai dengan tahun 2006 pendidikan tinggi yang mengelola bidang kesehatan masyarakat sehingga meluluskan SKM mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Kita bisa melihat begitu marak bediri Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) di berbagai daerah.
Secara keilmuan, bidang keilmuan kesehatan masyarakat merupakan bagian dari bidang ilmu kesehatan disamping kedokteran, kedokteran gigi dan keperawatan. Profesi dokter, dokter gigi ataupun perawat sudah cukup lama dikenal oleh masyarakat luas. Sedangkan Sarjana Kesehatan Masyarakat sebagian besar masyarakat umum belum mengenal peran dan kedudukannya dala upaya pembangunan bidang kesehatan. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa seorang SKM mempunyai keterampilan medis (dalam pengobatan) seperti tenaga medis/paramedis lain, misalnya bisa menyuntik atau mengobati. Sebagian lain SKM hanya diidentikkan dengan tenaga penyuluh. Termasuk bagi para pengelola fasilitas kesehatan juga belum terlalu memberi tempat pada SKM sehingga rumah sakit-rumah sakit misalnya masih jarang merekrut tenaga SKM. Sejalan dengan upaya pemerintah dalam pembangunan kesehatan yang menekankan upaya-upaya promotif, protektif dan preventif di samping kuratif dan rehabilitatif, maka tenaga SKM semakin banyak menempati berbagai institusi baik negeri maupun swasta dalam bidang yang berkaitan dengan kesehatan, seperti Departemen Kesehatan, Dinas Kesehatan, Rumah Sakit, Puskesmas, LSM Kesehatan, industri dan lain-lain.
Struktur pendidikan bidang ilmu kesehatan masyarakat dapat dikategorikan menjadi 4, yaitu program doktor, program magister, program pendidikan sarjana kesehatan masyarakat dan program diploma (Husin, 2003). Konsep Program Pendidikan SKM telah memiliki arah pengembangan dan landasan akademik profesional yang mencakup paradigma kesehatan masyarakat, misi kesehatan masyarakat, tujuan pendidikan SKM, orientasi pendidikan tinggi kesehatan masyarakat dan kelompok ilmu dalam program SKM. SKM memiliki kemampuan profesional dan spesifik bidang kesehatan masyarakat, yaitu:

1) Menetapkan diagnosis kesehatan masyarakat/komunikasi yang intinya mengenali, merumuskan, dan menyusun prioritas masalah kesehatan masyarakat.
2) Mengembangkan program penanganan masalah kesehatan masyarakat yang bersifat promotif dan preventif.
3) Bertindak sebagai manajer madya yang dapat berfungsi sebagai pelaksana, pengelola, pendidik dan peneliti.
4) melakukan pendekatan masyarakat.
5) Bekerja dalam tim multidisipliner (Konsorsium ilmu Kesehatan, 1998).

Di samping kemampuan di atas, SKM memiliki kompetensi/kedudukan berupa wawasan pembangunan yang luas, kemampuan kemitraan, kerja sama lintas sektor, advokasi promosi kesehatan dan pencegahan penyakit, kepribadian kepemimpinan, sistematika berfikir baik, pemahaman paradigma sehat dengan segala implikasinya, “community base” oriented, kemampuan menunjang otonomi/desentralisasi, kemampuan menjadi gelandang upaya kesehatan, berdiri sama tinggi/duduk sama rendah dengan dokter, dokter gigi, perawat di Puskesmas dan kemampuan membawa program kesehatan yang dapat mengantar setiap penduduk ke sehat produktif. Seorang SKM juga diharapkan aktif dalam gerakan menyehatkan masyarakat/bangsa, memberdayakan masyarakat/bangsa, membangun, menyebarluaskan serta memanfaatkan ilmu kesehatan masyarakat (“agent of formal knowledge”), membangun berbagai model, upaya atau gerakan pemberdayaan masyarakat/pembangunan kesehatan masyarakat, menjadi pakar dalam bidang ilmu kesehatan masyarakat dan tempat berbagai pihak/masyarakat bertanya/berkonsultasi (AIPTKMI, 2003). Masjkuri (2003) mengelompokkan peran SKM menjadi 4, yaitu leader (baik dalam organisasi formal maupun nonformal), ilmuwan (berfikir logis, curious, analits), agen pembaharu (cepat tanggap dan proaktif terhadap permasalahan) dan sebagai pengelola program tingkat menengah (middle level manager). Ditambahkan mengenai kompetensi SKM yang dibutuhkann adalah kemampuan untuk memantau status kesehatan untuk mengidentifikasi masalah yang ada di masyarakat, kemampuan untuk menetukan diagnosis dan menyelidiki health hazard dan health risk di masyarakat, kemampuan untuk menyampaikan isu kesehatan, mendidik dan memberdayakan masyarakat untuk mengatasinya, kemampuan untuk membangun kemitraan dan menggerakkan masyarakat untuk mengatasi masalah kesehatan, kemampuan untuk mengembangkan kebijakan dan rencana yang mendukung upaya kesehatan dan kemampuan untuk menjaga diberlakukannya peraturan dan perundangan yang melindungi kesehatan.
Selain kompetensi yang bersifat generalis, SKM sesuai dengan tuntutan pengguna atau pasar juga berkembang kearah adanya sebuah khususan atau peminatan. sesuai dengan fragmentasi ilmu kesehatan masyarakat yang meliputi 7 bidang (Husin, 2003), maka umumnya dapat dikembangkan pula 7 peminatan di bidang kesehatan masyarakat, yaitu epidemiologi, biostatistika, pendidikan kesehatan, kesehatan lingkungan, gizi kesehatan masyarakat, administrasi dan kebijakan kesehatan, kesehatan kerja. Dari 7 bidang peminatan yang ada, peminatan kesehatan kerja (biasanya ditambahkan dengan keselamatan karena sangat terkait sehingga menjadi kesehatan dan keselamatan kerja, disingkat K3) saat ini dirasakan mengalami perkembangan pesat dikarenakan K3 merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung keberlangsungan proses produksi, sebagai tuntutan pasar dan berkembangnya industrialisasi. Peluang pasar kerja da peminat K3 juga cenderung lebih banyak. Kondisi ini sangat strategis untuk melihat peran SKM dalam upaya kesehatan kerja. SKM peminatan K3 memiliki kemampuan profesional untuk mengidentifkasi dan memecahkan masalah kesehatan masyarakat, khususnya kesehatan dan keselamatan kerja, menganalisa permasalahan K3, melakukan fasilitasi dan mengembangkan program-program K3. Kompetensi SKM peminatan K3 yang diharapkan adalah memiliki pola pikir integratif, dapat menguasai dan mengembangkan konsep-konsep dasar serta pengetahuan praktis bidang K3 dan dapat mengembangkan budaya K3 di tempat kerja dengan pendekatan nilai budaya, humanisme dan psikososial serta diarahkan untuk menuju berbagai profesi, misalnya sebagai safety/health specialist, konsultan, auditor dan profesi lain di bidang K3. Dilihat dari isi mata ajaran, kompetensi SKM peminatan K3 mencakup:
1. Mampu memahami konsep umum, peran, fungsi, strategi sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja secara integrative
2. Memiliki wawasan dan pemahaman mengenai pendekatan perilaku organisasi dalam konteks keselamatan dan kesehatan kerja.
3. Mampu memahami peran sentral promosi kesehatan pekerja dalam pelayanan kesehatan kerja untuk optimalisasi kesehatan pekerja, kapasitas kerja dan kualitas kehidupan.
4. Memahami prinsip dasar pengukuran kinerja keselamatan dan kesehatan kerja.
5. Memahami esensi dasar keilmuan keselamatan dan kesehatan kerja guna pengembangan secara aplikatif.
6. Mampu memahami sumber-sumber, bentuk dan sifat hasil dari lingkungan kerja, metoda-metoda sampling, nilai ambang batas, manajemen industri dan toksikologi pengendalian di lingkungan kerja.
7. Mampu memahami tentang prinsip-prinsip, teknik dan penerapan unsur-unsur manajemen risiko dan pencegahan kerugian di industri, identifikasi bahaya, analisis probabilitas, penakaran risiko, kriteria risiko, pengendalian risiko dan manajemen risiko.
8. Mampu memahami tentang keterkaitan antara psikologi dengan kesehatan pekerja, dasar-dasar psikologi industri, dan teknik dasar perubahan perilaku pekerja di dalam industri (tempat kerja).
9. Mampu memahami definisi, teori terjadinya kebakaran, (fire chearn, fire chenitry, ignition, flame spread, fire hazard. Pemodelan ledakan dan kebakaran untuk ruang terbuka dan tertutup, metoda identifikasi kebakaran, rekayasa pengendalian kebakaran analisis risiko.
10. Mampu memahami mengenai ruang lingkup sistem pengelolaan keselamatan dan kesehatan kerja, elemen-elemen pengelolaan kesehatan dan keselamatan kerja, metoda implementasi audit.
11. Mampu memahami mengenai ruang lingkup sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja. Dibahas elemen-elemen manajemen kesehatan dan keselamatan kerja, juga metoda implementasi audit.
12. Mampu memahami mengenai upaya penyerasian pekerjaan/kondisi kerja terhadap pekerja, prinsip-prinsip dasar ergonomi dan aplikasinya bagi keselamatan dan keseahatan kerja.
13. Mampu memahami mengenai pengertian hukum dan perundang-undangan, proses pembuatan dan penerapan. Dibahas juga latar belakang serta berbagai hambatan penerapan hukum dan perundang-undangan kesehatan kerja.
14. Mampu memahami mengenai prinsip-prinsip dan metoda penelitian masalah kesehatan kerja dengan pendekatan epidemiologi. Hubungan pekerjaan dan kesehatan, persyaratan, pengukuran, disain studi serta berbagai persyaratanmetodologi. Mampu memahami tentang konsep, metoda dan program analisis risiko keselamatan kerja, analisis pemaparan yang merupakan bagian dari analisis risiko kesehatan kerja.
15. Mampu memahami dan melakukan studi di industri/institusi/rumah sakit dan LSM, untuk mendapatkan gambaran/implementasi program keselamatan dam kesehatan kerja di industri/institusi, baik dalam aspek organisasi manajemen maupun dalam perencanaan, implementasi, evaluasi dan monitoring.


C. Upaya Kesehatan Kerja

ILO dan WHO (1995) menyatakan Kesehatan Kerja bertujuan untuk peningkatan dan pemeliharaan derajat kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja disemua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan; perlindungan bagi pekerja dalam pekerjaannya dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan; dan penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya. Secara ringkas merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia kepada pekerjaan atau jabatannya. Selanjutnya dinyatakan bahwa fokus utama Kesehatan Kerja, yaitu: 1) Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan pekerja dan kapasitas kerja. 2) Perbaikan lingkungan kerja dan pekerjaan yang mendukung keselamatan dan kesehatan. 3) Pengembangan organisasi kerja dan budaya kerja kearah yang mendukung kesehatan dan keselamatan di tempat kerja, juga meningkatkan suasana sosial yang positif dan operasi yang lancar serta meningkatkan produktivitas perusahaan.
Departemen Kesehatan telah menetapkan upaya khusus kesehatan kerja sebagai bagian dari pembangunan bidang kesehatan yang sejak tahun 1998 dicanangkan dengan paradigma sehat. Pencanangan paradigma sehat ini sejalan dengan pembangunan berwawasan lingkungan serta pengembangan tenaga kesehatan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Bidang kesehatan kerja mempunyai implikasi luas baik secara mikro maupun makro. Potensi munculnya berbagai penyakit akibat kerja yang daiami pekerja akan merugikan perusahaan dari segi biaya kesehatan, absen kerja yang pada ujungnya mengganggu produktivitas kerja. Perhatian yang baik pada kesehatan kerja dan perlindungan risiko bahaya di tempat kerja menjadikan pekerja dapat lebih nyaman dalam bekerja. Dalam Undang-undang No. 23 tahun 1992 pasal 23 dinyatakan bahwa kesehatan kerja diselenggarakan agar setiap pekerja dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri dan masyarakat sekelilingnya, agar diperoleh produktivitas kerja yang optimal sejalan dengan program perlindungan tenaga kerja. Dalam Permenaker No. 3 tahun 1982 disebutkan tugas pokok kesehatan kerja antara lain:
1. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja
2. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
3. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi
4. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja
5. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja
6. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus
7. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait terhadap permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan kerja
8. Pembinaan dan pengawasan atau penyesuaian pekerjaan terhadap tenaga kerja
9. Pembinaan dan pengawasan terhadap lingkungan kerja
10. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan sanitasi
11. Pembinaan dan pengawasan perlengkapan kesehatan kerja
12. Memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja, pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan makanan ditempat kerja
13. Memberikan laporan berkala tentang pelayanan kesehatan kerja kepada pengurus
14. Memberikan saran dan masukan kepada manajemen dan fungsi terkait terhadap permasalahan yang berhubungan dengan aspek kesehatan kerja
Pada beberapa sektor industri formal berskala menengah dan besar pada umumnya pelaksanaan kesehatan kerja sudah cukup baik yang dilakukan secara terintegrasi dalam suatu kesisteman yang dikenal dengan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3). Untuk usaha-usaha informal dan indsutri-industri kecil, Departemen Kesehatan maupun Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi sudah melakukan upaya kesehatan kerja, misalnya dalam bentuk pembinaan dan pelatihan-pelatihan serta penyusunan berbagai pedoman pelaksanaan kesehatan kerja. Namun, diakui upaya yang telah dilakukan belum bisa menyentuh/menjangkau seluruh usaha informal dan industri kecil yang jumlahnya cukup besar. Selain adanya persoalan keterbatasan sumber daya manusia atau petugas dan kesadaran para pengelola usaha dalam memperhatikan kesehatan kerja.

D. Peran SKM dalam Kesehatan Kerja

Peran SKM dalam berbagai bentuk upaya kesehatan masyarakat, diantaranya adalah sebagai pelaksana lapangan, pendidikan, penyuluhan kesehatan masyarakat, pembangunan model, pengelolaan kesehatan masyarakat, pengelola dan pengendali upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan kerja sebagai bagian dari upaya kesehatan masyarakat seperti diuraikan di atas dapat dilakukan melalui berbagai upaya atau program-program. Untuk melaksanakan upaya tersebut dibutuhkan sejumlah profesi, seperti dokter, perawat, ahli higiene kerja, ahli toksikologi, ahli ergonomi, ahli epidemiologi dan ahli keselamatan (Harrington & Gill, 2005). SKM peminatan K3 khususnya dapat diberdayakan dan dikembangkan untuk menempati profesi seperti ahli higiene kerja, ergonomi dan ahli keselamatan. Dilihat dari tugas pokok kesehatan kerja dan bentuk pengendalian bahaya kesehatan, tenaga SKM mempunyai kompetensi yang sangat sesuai karena tenaga SKM dirancang untuk melakukan tugas pokok atau upaya-upaya yang bersifat promosi, perlindungan dan pencegahan. Selain itu kemampuan sebagai leader, pengelola program diharapkan akan lebih mengoptimalkan upaya kesehatan kerja.
Jumlah institusi pendidikan tinggi yang menghasilkan SKM saat ini sangat banyak. Potensi ini akan sangat berarti ketika kita melihat kenyataan bahwa di Indonesia jumlah angkatan kerja adalah terbesar nomor 4 di dunia, yaitu berjumlah sekitar 152 juta jiwa (Survey BPS 2003, untuk penduduk di atas 15 tahun) dan jumlah industri yang cukup besar sekitar 102.000 perusahaan. Selain di perusahaan, SKM dengan kompetensi bidang K3 juga diperlukan di instansi pemerintah baik pusat maupun daerah dalam menjalankan fungsinya membuat regulasi, melakukan supervisi, bimbingan dan evaluasi. Dalam rangka pemberdayaan masyarakat bidang K3, SKM juga dapat memainkan peran di LSM-LSM bidang kesehatan yang tentunya dapat membuat program intervensi kesehatan di tempat kerja. Hal penting untuk dicatat adalah pentingnya pemberdayaan potensi tenaga SKM sesuai kompetensinya untuk dapat menjadi pelaksana upaya kesehatan kerja baik bekerja langsung di perusahaan, ditempatkan di instansi pemerintah maupun bergerak melaui LSM-LSM. Kebijakan kesehatan kerja yang telah dikeluarkan pemerintah harus didukung oleh jejaring terkait. Disamping pemerintah itu sendiri, juga oleh para pengusaha atau pelaku usaha dan para pekerja. Kebutuhan SDM bidang kesehatan kerja selain tenaga medis dan paramedis, seperti dokter dan perawat juga sangat dibutuhkan tenaga-tenaga yang mampu melakukan upaya-upaya kesehatan kerja yang lebih bersifat peningkatan, perlindungan dan pencegahan, yaitu tenaga ini adalah SKM.
Perkembangan pembangunan nasional bangsa Indonesia sekarang ini dihadapkan pada era otonomi dan desentralisasi. Titik berat yang menjadi perhatian baik masyarakat maupun pemerintah adalah bidang pendidikan dan kesehatan. Era globalisasi saat ini juga menuntut adanya kompetensi tenaga kerja dan pentingnya standarisasi serta sertifikasi. Trend fenomena ini sangat relevan dengan pemikiran dan implementasi peran SKM dalam upaya kesehatan kerja.
Dapat digarisbawahi di sini mengenai peran SKM dalam upaya kesehatan kerja, kita dapat melihatnya dari titik temu antara kompetensi yang dimiliki SKM khususnya peminatan K3 dengan tujuan dan tugas pokok kesehatan kerja dan standar upaya kesehatan kerja yang biasa diterapkan di tempat kerja dalam bentuk Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Kompetensi SKM sangat sesuai sebagai bagian dari profesi lain dalam upaya kesehatan kerja, yaitu sebagai pengelola program dan dapat melakukan fungsinya untuk melakukan/ mengkoordinasikan langkah-langkah identifikasi potensi bahaya kesehatan, penilaian bahaya kesehatan dan pengendalian melalui berbagai program, pembinaan, pengawasan serta pendidikan dan pelatihan.


E. Penutup

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan akan arti pentinya tenaga SKM sesuai dengan kompetensinya sebagai sember daya handal dalam upaya kesehatan kerja. Untuk itu diperlukan koordinasi dan kerj sama lintas sektoral, khususnya dunia pendidikan, pelaku usaha, pemerintah dan para pekerja. Dengan demikian upaya kesehatan kerja menjadi penting sehingga produktivitas kerja meningkat, kesehatan pekerja terlindungi dan pada gilirannya kesejahteraan masyarakat meningkat dan bangsa Indonesia dapat bangkit dari keterpurukan.


















DAFTAR PUSTAKA

1. Asosiasi Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia, 2003. Laporan Rapat Kerja I.
2. Harrington, JM, Gill, FS, 2005. Buku Saku Kesehatan Kerja. Alih Bahasa Sudjoko Kuswadji. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3. Husin, Ma’rifin, 2003. Peran dan Tanggungjawab Institusi Pendidikan Tinggi Kesehatan Masyarakat dalam Upaya Pembangunan Kesehatan Masyarakat-Bangsa. Konsorsium Ilmu Kesehatan Indonesia
4. Rahmat, Hapsara Habib, 2003. Situasi Kesehatan Global dan Regional serta Implikasinya terhadap Kurikulum Pendidikan Kesehatan Masyarakat. Makalah Lokakarya Akademik Fikes Uhamka.



Jumat, 10 April 2009

PKM-GT IMAM WAHYUDIN


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tebu merupakan salah satu jenis tanaman yang hanya dapat ditanam di daerah yang memiliki iklim tropis, termasuk salah satunya di Indodesia. Perkebunan tebu di Indonesia tersebar di Medan, Lampung, Jawa dan Makasar, dengan luas area sekitar 232.000 hektar. Tebu-tebu dari perkebunan diolah menjadi gula di pabrik-pabrik gula. Selama proses produksi, gula yang termanfaatkan hanyalah 5%, ampas tebu yang dihasilkan sebesar 90% dari setiap tebu yang diproses, sedangkan sisanya berupa tetes tebu (molase) dan air (teknik_kimia.blogspot:2007-07-01). Musim giling 2006 lalu, diperoleh data dari IKGI (Ikatan Ahli Gula Indonesia) bahwa jumlah ampas tebu yang dihasilkan oleh 57 pabrik gula di Indonesia sekitar 9.640.000 ton (Anonim,2007b). sebanyak 60% ampas tebu tersebut dimanfaatkan sebagai bahan boiler di pabrik gula, bahan baku kertas, pupuk, pulp dan asbes, tetapi nilai ekonomi yang diperoleh belum tinggi. Jadi, sekitar 45% dari ampas tebu tersebut belum dimanfaatkan (Husin, 2007). Maka, diperlukan pengembangan teknologi diversifikasi pemanfaatan ampas tebu yang berpotensi sebagai bahan bakar penghasil energi,.

Indonesia juga memiliki lahan peternakan yang cukup luas. Beberapa hewan ternak yang dihasilkan diantaranya sapi, kambing, kerbau, kuda, yang merupakan hewan ruminansia. Pemanfaatan hewan ternak diantaranya dikonsumsi susu dan dagingnya, sedangkan kulitnya untuk hiasan. Daging organ dalam (jerohan) termasuk lambung, seharusnya dibuang dan tidak dikonsumsi karena dapat menyebabkan penyakit asam urat. Hewan ruminansia memiliki 4 ruang lambung dalam sistem pencernaannya yaitu retikulum, rumen, omasum dan abomasum. Rumen merupakan lambung yang paling besar (perut besar) yang didalamnya hidup bermilyar-miliyar mikroba penghasil selulose. Selulose merupakan enzim pengurai selulosa yang terdapat dalam rumput atau daun-daunan yang dimakan hewan ruminansia. Selulosa merupakan karbohidrat pembentuk dinding sel tumbuhan, yang sebenarnya tidak dapat dicerna oleh pencernaan ruminansia tanpa adanya mikroba dalam rumen. Mikroba-mikroba tersebut menghasilkan selulose untuk melakukan fermentasi selulosa secara anaerob dalam rumen, sehingga mengubah sululosa menjadi glukosa yang selanjutnya digunakan untuk mengahasilkan energi.

Sebuah percobaan yang dilakukan oleh Rismani, Yazdi, peneliti di Ohio State University pada Februari 2008 lalu, yaitu memasukan cairan mikroba dari rumen sapi yang diberi sampah organik ke dalam ruang baterai tertutup, menunjukkan bahwa ketika mikroba mengurai selulosa, dihasilkan energi yang menyebabkan baterai menjadi bermuatan listrik. Percobaan ini belum dilanjutkan sampai sekarang, sehingga belum diketahui bagaimana mekanisme penghasilan energi oleh mikroba rumen sapi melalui fermentasi selulosa (http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod).

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dalam penulisan karya tulis ini akan dibahas tentang “ Pemanfaatan Mikroba Rumen Ruminansia dan Ampas Tebu (Sugar cane Bagasse) sebagai Sumber Energi Alternatif Masa Depan “. Karya tulis ini juga didasarkan pada fenomena krisis energi listrik yang terjadi di Indonesia saat ini sehingga sering terjadi pemadaman bergilir di berbagai wilayah di Indonesia yang sangat meresahkan warga masyarakat. Selain itu, banyak daerah terpencil yang belum bisa menikmati listrik dikarenakan terbatasnya sumber Energi Listrik.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam karya tulis ini ialah:

  1. Kandungan ampas tebu (Sugar Cane Bagasse) apa yang berpotensi sebagai sumber energi alternatif?
  2. Jenis mikroba apa yang terdapat dalam rumen ruminansia yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan sumber enrgi alternatif?
  3. Bagaimanakah mekanisme pemanfaatan mikroba rumen ruminansia dan ampas tebu (Sugar Cane Bagasse) sebagai sumber energi alternatif masa depan?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan karya tulis ini ialah:

  1. Mengetahui kandungan ampas tebu (Sugar Cane Bagasse) yang berpotensi sebagai sumber energi alternatif.
  2. Mengetahui jenis mikroba yang terdapat dalam rumen ruminansia yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan sumber energi alternatif.
  3. Mengetahui mekanisme pemanfaatan mikroba rumen ruminansia dan ampas tebu (Sugar Cane Bagasse) sebagai sumber energi alternatif masa depan.

D. Manfaat Penulisan

1. Memberikan informasi kepada pengusaha pabrik gula tentang pengembangan teknologi diversifikasi pemanfaatan ampas tebu yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai sumber energi.

2. Memberikan informasi kepada peternak hewan ruminansia tentang pemanfaatan rumen ruminansia yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai sumber energi.

3. Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan mikroba rumen ruminansia dan ampas tebu (Sugar Cane Bagasse) sebagai sumber energi alternatif masa depan.


BAB II

TELAAH PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tebu

  1. Klasifikasi Tebu

Tebu ialah jenis rumput-rumputan, termasuk kelas Monocotyledonae, ordo Glumiflorae, keluarga Gramineae dengan nama ilmiah Saccharum officinarum L. Menurut Jeswiet (1925), terdapat lima spesies tebu, yaitu Saccharum spontaneum (glagah), Saccharum sinensis (tebu Cina), Saccharum barberry (tebu India), Saccharum robustum (tebu Irian) dan Saccharum officinarum (tebu kunyah) (Sastrowijoyo, 1998).

  1. Deskripsi Tebu

Tebu (Saccharum officinarum) ialah tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula, dan hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Umur tebu sejak ditanam sampai bisa dipanen kurang lebih 1 tahun. Beberapa kondisi lingkungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan tanaman tebu antara lain :

a. Berada pada daerah tropis yang basah (350LS dan 390LU), dengan topografi 0 – 1400 mdpl.

b. Curah hujan 200 mm/bulan pada 5-6 bulan berturut-turut, 125 mm/bulan pada 2 bulan transisi dan kurang 75 mm/bulan pada 4-5 bulan berturut-turut.

c.

4

Kecepatan angin kurang dari 10 km/jam.

d. Suhu udara 24-30 oC, dengan rentang suhu siang dan malam tidak lebih dari 10 oC.

e. Bentuk areal datar hingga berombak dengan kemiringan lereng kurang dari 2 %.

f. Kedalaman jeluk efektif minimal 50 cm.

g. Tekstur tanah sedang sampai berat atau menurut klasifikasi tekstur tanah (Buckman and Brady, 1960) ialah lempung, lempung berpasir, lempung berdebu, liat berpasir, liat berlempung, liat berdebu dan liat atau yang tergolong bertekstur agak kasar sampai halus.

h. pH tanah optimal pada 6-7.

i. Status hara bagi tanaman tebu dengan kriteria N total > 1,5; P2O5 tersedia > 75 ppm; K2O tersedia > 150 ppm dan kejenuhan Al <>


  1. Morfologi Tebu

Sifat morfologi tebu diantaranya bentuk batang konis, susunan antar ruas berbuku, dengan penampang melintang agak pipih, warna batang hijau kekuningan, batang memiliki lapisan lilin tipis, bentuk buku ruas konis terbalik dengan 3-4 baris mata akar, warna daun hijau kekuningan, lebar daun 4-6 cm, daun melengkung kurang dari ½ panjang daun.

  1. Daerah Tumbuh

Asal tebu diduga dari Papua yang kemudian menyebar ke Asia Tenggara dan India sekitar 1000-1200 tahun SM. Mesir mengenal tebu pada tahun 647 M, seabad kemudian barulah Spanyol mengintroduksi tebu. Pada abad ke-17, tebu diperkenalkan di “Dunia Baru”, yaitu benua Amerika, tepatnya di Lousiana. Total area perkebunan tebu di dunia saat ini mencapai luas sekitar 20 juta hektar. Peringkat pertama ditempati oleh Brazil, lalu India dan yang ketiga ialah Cina. Indonesia menempati urutan ke-11 dalam luas lahan tebu. Produktifitas terbaik dipegang oleh Australia dengan hasil tebu per hektar mencapai 85 ton/ha, diikuti oleh Kolombia 84 ton/ha, lalu Amerika 77 ton/ha. Indonesia pernah dikenal sebagai pengekspor gula no.1 di dunia tahun 1930-an, yang dapat memproduksi 1 juta ton gula (http://ciciarendy.multiply.com/journal/item/6/ Tebu).


  1. Ampas Tebu

Ampas tebu (gambar 2.2.) ialah hasil samping dari proses ekstraksi (pemerahan) cairan tebu. Pada musim giling 2006 lalu, data yang diperoleh dari Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) menunjukkan bahwa jumlah tebu yang digiling oleh 57 pabrik gula di Indonesia mencapai sekitar 30 juta ton (Anonim, 2007b), sehingga ampas tebu yang dihasilkan diperkirakan mencapai 9.640.000 ton.

Namun, sebanyak 60% dari ampas tebu tersebut dimanfaatkan oleh pabrik gula sebagai bahan baker boiler (mesin pemanas) di pabrik, bahan baku untuk kertas, particleboard, fibreboard, bahan baku industri kanvas rem, industri jamur dan lain-lain. Diperkirakan sebanyak 45 % dari ampas tebu belum dimanfaatkan (Husin, 2007). Padahal ampas tebu memiliki berbagai kandungan yang potensial untuk industri (Tabel 2.1). Ampas tebu sebagian besar mengandung ligno-cellulose. Panjang seratnya antara 1,7 sampai 2 mm dengan diameter sekitar 20 mikro. Bagase mengandung air 48 - 52%, gula rata-rata 3,3% dan serat rata-rata 47,7%. Serat bagase tidak dapat larut dalam air dan sebagian besar terdiri dari selulosa, pentosan dan lignin (Husin, 2007). Menurut Husin (2007) hasil analisis serat bagas seperti Tabel 2.1. (http://bioindustri.blogspot.com) berikut:


Tabel 2.1. Komposisi kimia ampas tebu

No

Kandungan

Kadar (%)

Abu

3,82

Lignin

22,09

Selulosa

37,65

Sari

1,81

Pentosan

27,97

SiO2

3,01

  1. Pemanfaatan Ampas Tebu Dalam Industri

Ampas tebu juga mengandung polisakarida yang dapat dikonversi menjadi produk atau senyawa kimia untuk mendukung proses produksi sektor industri lainnya. Salah satu polisakarida yang ada dalam ampas tebu ialah pentosan, dengan persentase sebesar 20-27%. Kandungan pentosan yang cukup tinggi tersebut memungkinkan ampas tebu untuk diolah menjadi Furfural. Furfural memiliki aplikasi cukup luas dalam beberapa industri dan dapat disintesis menjadi turunan-turunannya seperti : Furfuril Alkohol, Furan, dan lain-lain. Kebutuhan Furfural dan turunannya dalam negeri terus meningkat. Saat ini seluruh kebutuhan Furfural dalam negeri diperoleh melalui impor. Impor terbesar diperoleh dari Cina yang saat ini menguasai 72% pasar Furfural dunia.

Furfural (C5H4O2) sering disebut dengan 2-furankarboksaldehid; furaldehid; furanaldehid; 2-Furfuraldehid; merupakan senyawa organik turunan dari golongan furan. Senyawa ini berfasa cair, berwarna kuning hingga kecoklatan, titik didih 161,70C, densitas (200C) sebesar 1,16 g/cm3. Furfural merupakan senyawa yang kurang larut dalam air, namun larut dalam alkohol, eter, dan benzena. Furfural memiliki aplikasi yang cukup luas terutama untuk mensintesis senyawa-senyawa turunannya. Di dunia hanya 13% saja yang langsung menggunakan Furfural sebagai aplikasi, selebihnya disintesis menjadi produk turunannya. Furfural dihasilkan dari biomassa (ampas tebu) lewat 2 tahap reaksi, yaitu hidrolisis dan dehidrasi. Untuk itu digunakan bantuan katalis asam, misalnya: asam sulfat, dan lain-lain.

Furfuril alkohol biasa disebut juga 2-furanmetanol atau 2-furilkarbinol, memiliki rumus molekul 2-C4H3O.CH2OH. Furfuril Alkohol ialah senyawa yang paling banyak digunakan sebagai turunan dari Furfural. Furfuril Alkohol diproduksi dalam skala industri dengan cara hidrogenasi Furfural pada fase cair maupun fase uap pada tekanan rendah. Katalis berbasis tembaga lebih dipakai karena lebih selektif dan tidak mempengaruhi hidrogenasi dari cincin. Furfuril Alkohol paling banyak digunakan sebagai monomer dalam pembuatan serat Furfuril Alkohol juga dimanfaatkan sebagai pelarut aktif dalam berbagai serat sintetik dan sebagai bahan baku untuk pembuatan senyawa turunan dari Furfuril Alkohol. Salah satu senyawa turunan yang dihasilkan dari Furfuril Alkohol ialah Tetrahidrofurfuril Alkohol (2-tetrahidrofuranmetanol), yang diproduksi dengan cara hidrogenasi katalitik Furfuril Alkohol pada fasa uap. Tetrahidrofurfuril Alkohol dipakai sebagai pelarut, pembersih, dan pewarna yang diaplikasikan dalam industri cat, pelapisan (coating), pembersih, dan farmasi.

Furan merupakan contoh lain senyawa yang dihasilkan dengan bahan baku Furfural. Furan yang biasa disebut juga Furfuran atau oxole, memiliki rumus molekul C4H4O. Furan diproduksi melalui proses dekarbonilasi Furfural dengan kehadiran katalis logam mulia. Furan dimanfaatkan sebagai bahan kimia pembangun dalam produksi senyawa kimia yang digunakan pada industri farmasi, herbisida, senyawa penstabil (stabilizer) dan bahan baku pembuatan senyawa turunan dari furan. Salah satu senyawa yang diproduksi dengan bahan baku Furan melalui hidrogenasi katalitik ialah Tetrahidrofuran (tetrametilen oksida atau oxolane). Senyawa ini digunakan sebagai pelarut untuk polivinil klorida (PVC), polivinilidene klorida, beberapa serat poliuretan yang diaplikasikan pada proses pelapisan dan perekat (http://teknik-kimia2003.blogspot.com).

B. Tinjauan Umum Hewan Ruminansia

  1. Pencernaan Hewan Ruminansia

Hewan ternak seperti sapi, kambing, kerbau dan kuda merupakan hewan ruminansia (memamah biak). Perut sapi, kambing, kerbau, kuda, bukanlah tabung ajaib yang begitu saja dapat merubah rumput yang ditelannya menjadi daging. Rumput perlu dicacah menjadi potongan-potongan yang jauh lebih kecil lagi sebelum memasuki sejumlah tahap pencernaan berikutnya yang sangat rumit.

Pola sistem pencernaan pada hewan ruminansia umumnya sama dengan manusia, yaitu terdiri atas mulut, faring, esofagus, lambung, dan usus. Pencernaan pertama ini berlangsung pada rongga mulut, dengan bantuan gigi dan lidah (secara mekanik) dan air liur (secara kimiawi). Hewan memamah biak tidak mempunyai gigi seri bagian atas dan gigi taring, tetapi memiliki gigi geraham lebih banyak dibandingkan dengan manusia. Hal ini sesuai dengan fungsinya untuk mengunyah makanan berserat, yaitu penyusun dinding sel tumbuhan yang terdiri atas 50% selulosa. Gigi geraham berfungsi untuk mengunyah, memotong, mencacah dan menghancurkan makanan, lidah membantu dalam hal pengadukan, dan air liur berperan sebagai cairan pelicin. Air liur juga menyediakan cairan untuk proses pencernaan di lambung, terutama rumen. Air liur ini kaya akan zat bikarbonat yang berfungsi menjaga derajat keasaman pada lambung.

Umumnya, sapi dewasa dapat menghasilkan 100-150 liter air liur setiap hari. Makanan yang dikunyah di mulut kemudian melewati kerongkongan, dan diteruskan ke perut (lambung). Lambung ruminansia sangat besar, diperkirakan sekitar 3/4 dari isi rongga perut. Lambung mempunyai peranan penting untuk menyimpan makanan sementara yang akan dimuntahkan dan dimamah kembali di mulut. Selain itu, pada lambung juga terjadi proses pembusukan dan fermentasi.

Lambung hewan ruminansia (gambar 2.3.) terdiri atas 4 bagian, yaitu rumen, retikulum, omasum, dan abomasum dengan ukuran yang bervariasi sesuai dengan umur dan makanan alamiahnya. Kapasitas rumen 80%, retikulum 5%, omasum 7-8%, dan abomasum 7-8%. Rumen merupakan yang terbesar. Daya tampung rumen 100-300 liter (pada sapi) dan 4-10 liter (pada kambing) (http://www.free.vlsm.org).

Tumbuhan dan rumput yang dimakan sapi mengandung selulosa dalam jumlah besar. Selulosa ialah pembentuk dinding sel tumbuhan, dan merupakan zat karbohidrat yang tidak dapat dicerna oleh hewan ruminansia. Selulosa harus dihancurkan dan diuraikan menjadi molekul-molekul kecil dan sederhana agar dapat diserap oleh dinding saluran pencernaan hewan ruminansia.

  1. Mekanisme Pencernaan

Setelah dikunyah di mulut, makanan akan masuk kerongkongan dan menuju rumen (sebagai gudang sementara bagi makanan yang tertelan). Di rumen terjadi pencernaan protein, polisakarida, dan penguraian selulosa. Penguraian selulosa dibantu oleh beragam jenis mikroba dalam rumen yang menghasilkan enzim selulase. Satu mililiter saja dari seluruh isi rumen ini mengandung sekitar 1-100 miliar sel mikroba. Mikroba rumen dibagi dalam tiga kelompok utama yaitu bakteri, protozoa danfungi (Czerkawski, 1986). Jumlah dan ragam mikroba ini harus seimbang agar penguraian selulosa dapat berjalan dengan baik. Jumlah mikroba semakin lama semakin banyak karena mereka berkembang biak dengan membelah diri. Tetapi, sebagian sel-sel mikroba ini juga mati, teruraikan, dan akhirnya diserap oleh dinding saluran pencernaan hewan ruminansia.

Penguraian selulosa akan menghasilkan glukosa yang diimanfaatkan oleh mikroba untuk menghasilkan energi, juga senyawa-senyawa sederhana yang dimanfaatkan oleh hewan ruminansia. Penguraian selulosa ini terjadi dalam keadaan bebas oksigen (anaerob). Inilah yang disebut fermentasi. Zat yang dihasilkan pada proses ini diantaranya ialah asam lemak berantai pendek dan mudah menguap (seperti asam asetat, asam propionat, dan asam butirat), yang merupakan sumber energi bagi hewan ruminansia. Fermentasi ini juga menghasilkan asam laktat, gas karbon dioksida, dan gas metana (CH4) yang dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Makanan dari rumen akan diteruskan ke retikulum dan di tempat ini makanan akan dibentuk menjadi gumpalan-gumpalan yang masih kasar (disebut bolus). Bolus akan dimuntahkan kembali ke mulut untuk dimamah kedua kali. Makanan kemudian akan ditelan kembali untuk diteruskan ke omasum. Di omasum terdapat kelenjar yang memproduksi enzim yang akan bercampur dengan bolus. Akhirnya bolus akan diteruskan ke abomasum, yaitu perut yang sebenarnya dan di tempat ini masih terjadi proses pencernaan bolus secara kimiawi oleh enzim menghasilkan bubur (kim). Kim akan masuk ke usus halus untuk diserap sebagai sari-sari makanan. Sisa pencernaan yang tidak diserap akan masuk ke usus besar dan dikeluarkan melalui anus dalam bentuk feses. Bakteri dalam rumen kemungkinan akan keluar dari tubuh hewan ruminansia bersama feses, sehingga di dalam feses (tinja) hewan ini mengandung bahan organik yang diuraikan dan dapat melepaskan gas CH4 (http://al-firqotunnajiyyah.blogspot.com/2008/08/suaka-marga-ikroba.html).

Serangkaian proses canggih diatas ialah kehendak Allah SWT sebagaimana seruan Allah: “Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan.” (QS. Al Mu’minuun, 23:21).

  1. Mikroba Dalam Rumen Ruminansia

Bakteri rumen diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yang digunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya. Beberapa jenis bakteri yang dilaporkan oleh Hungate (1966) ialah : (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens, Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati (Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica), (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis). Sedangkan protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya karena mudah dilihat berdasarkan penyebaran silianya diantaranya Holotrichs yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia di sekitar mulut umumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna (Arora, 1989).

Kelompok fungi seperti Trichoderma resei, T. viridae, Chaetomium, Fusarium, Aspergilus niger, Penicilium, Rhizoctonia dan Verticillium aktif menguraikan bahan organik selulosa (Knapp, 1985). Fungi ini membentuk koloni pada jaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh menembus dinding sel tanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen. Fungi Penicilium Chrysosporium dan Coriolus versicolor dalam reaksi oksidasi dan reaksi hydrolitik mendegradasi lignin menjadi rantai alifatik. Enzim yang diperlukan dalam penguraian lignin ialah mono dan di-oxygenase. Sedangkan hemiselulosa akan diuraikan menjadi gugus gula.

C. Tinjauan Umum Sampah Organik

  1. Distribusi Sampah di Indonesia

Sampah kota-kota besar di Indonesia rata-rata mengandung 79.5% bahan organik, 4.1% kertas, plastik 3.7%, kaca 2.3%, logam 2.7%, kayu 2.79%, kain 1.1%, karet 0.8% lain-lain 2.9% dari survei Dinas Penyehatan Lingkungan Tahun 1994. Menurut Furedy (1994) sampah dari kota-kota di Asia mengandung 60–90% bahan organik dan debu (http://www.alumni. ugm.ac.id).

Soewedo (1983) menyatakan bahwa sampah ialah bagian dari sesuatu yang tidak dipakai atau sesuatu yang harus dibuang, yang umumnya berasal dari kegiatan yang dilakukan manusia (termasuk kegiatan industri). Secara umum, jenis sampah dapat dibagi menjadi 2 yaitu sampah organik (sampah basah) dan sampah anorganik (sampah kering).

Sampah organik yaitu sampah yang mudah membusuk dan mudah diuraikan secara alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik, misalnya sampah dari dapur, sisa tepung, sayuran, kulit buah, dan daun. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang tidak mudah membusuk dan sangat sulit terurai secara alami, seperti plastik wadah pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan gelas minuman, kaleng, kayu, dan sebagainya (http://www.dephut.go.id).

  1. Potensi Sampah Organik Sebagai Sumber Energi

Salah satu cara penanggulangan sampah organik yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia ialah dengan menerapkan teknologi anerobik untuk menghasilkan biogas. Secara ilmiah, biogas yang dihasilkan dari sampah organik ialah gas yang mudah terbakar (flammable). Gas ini dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi tanpa udara).

Umumnya, semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas. Tetapi hanya bahan organik homogen, baik padat maupun cair yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Bila sampah-sampah organik tersebut membusuk, akan dihasilkan gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Tapi, hanya CH4 yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar. Umumnya kandungan metana dalam reaktor sampah organik berbeda-beda. Penelitiannya Zhang et al. 1997, dapat menghasilkan metana sebesar 50-80% dan karbondioksida 20-50%. Sedangkan penelitian Hansen (2001), dalam reaktor biogasnya dihasilkan sekitar 60-70% metana, 30-40% karbon dioksida, amonia, hidrogen sulfida, merkaptan (tio alkohol) dan gas lainnya (http://www.chem-is-try.org/).

  1. Mekanisme Pembentukan Biogas

Sampah organik sayur-sayuran dan buah-buahan seperti layaknya kotoran ternak ialah substrat terbaik untuk menghasilkan biogas (Hammad et al, 1999). Proses pembentukan biogas melalui pencernaan anaerobik merupakan proses bertahap, dengan tiga tahap utama, yakni hidrolisis, asidogenesis, dan metanogenesis.

Tahap pertama ialah hidrolisis, dimana pada tahap ini bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein didegradasi oleh mikroorganisme hidrolitik menjadi senyawa terlarut seperti alkohol, gula sederhana, asam-asam amino, H2 dan CO2. Pada tahap selanjutnya yaitu tahap asidogenesis senyawa terlarut tersebut diubah menjadi asam-asam lemak rantai pendek oleh mikroorganisme asidogenik. Tahap terakhir ialah metanogenesis, dimana pada tahap ini asam-asam lemak rantai pendek diubah menjadi H2, CO2, dan asetat. Asetat akan mengalami dekarboksilasi dan reduksi CO2, kemudian bersama-sama dengan H2 dan CO2 menghasilkan produk akhir, yaitu metana (CH4) dan karbondioksida (CO2) (http://www.chem-is-try.org).

Efisiensi produksi biogas dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu: suhu, derajat keasaman (pH), konsentrasi asam-asam lemak volatil, nutrisi (terutama nisbah karbon dan nitrogen), zat racun, waktu retensi hidrolik, kecepatan bahan organik, dan konsentrasi amonia. Beberapa kondisi optimum proses produksi biogas sebagai berikut (Paket 2.2.):


Tabel 2.2. Kondisi Optimum Produksi Biogas

No

Parameter

Kondisi Optimum

1

Suhu

35oC

2

Derajat Keasaman

7 - 7,2

3

Nutrien Utama

20/1 sampai 30/1

4

Nisbah Karbon dan Nitrogen Sulfida

<>

5

Logam-logam Berat Terlarut

<>

6

Sodium

<>

7

Kalsium

<>

8

Magnesium

<>

9

Amonia

<>

Parameter-parameter ini harus dikontrol dengan cermat agar proses pencernaan anaerobik dapat berlangsung secara optimal. Derajat keasaman (pH) harus dijaga pada kondisi optimum yaitu antara 7 - 7,2, karena jika pH turun akan menyebabkan pengubahan substrat menjadi biogas terhambat sehingga mengakibatkan penurunan kuantitas biogas. Nilai pH yang terlalu tinggi juga harus dihindari, karena akan menyebabkan produk akhir yang dihasilkan ialah CO2 sebagai produk utama. Jika rasio C/N tidak dikontrol dengan cermat, maka terdapat kemungkinan adanya nitrogen berlebih (terutama dalam bentuk amonia) yang dapat menghambat pertumbuhan dan aktivitas bakteri.

Biogas yang bebas pengotor (H2O, H2S, CO2, dan partikulat lainnya) dan telah mencapai kualitas pipeline ialah setara dengan gas alam. Gas tersebut dapat digunakan sama seperti gas alam. Pemanfaatannya biogas telah layak sebagai bahan baku pembangkit listrik, pemanas ruangan, dan pemanas air. Jika dikompresi, biogas dapat menggantikan gas alam terkompresi yang digunakan pada kendaraan (http://www.chem-is-try.org).

Di Indonesia nilai potensial pemanfaatan biogas ini akan terus meningkat karena adanya jumlah bahan baku biogas yang melimpah dan rasio antara energi biogas dan energi minyak bumi yang menjanjikan. Berdasarkan sumber Departemen Pertanian, nilai kesetaraan biogas dengan sumber energi lain ialah sebagai berikut (Tabel 2.3.):


Tabel 2.3. Kesetaraan biogas dengan sumber energi lain

No

Bahan Bakar

Jumlah

1

Biogas

1 m3

2

Elpiji

0,46 kg

3

Minyak tanah

0,62 liter

4

Minyak solar

0,52 liter

5

Bensin

0,80 liter

6

Gas kota

1,50 m3

7

Kayu bakar

3,50 kg

D. Tinjauan Umum Fermentasi

Arti fermentasi pada bidang biokimia dihubungkan dengan pembangkitan energi oleh katabolisme senyawa organik. Sedangkan pada bidang mikrobiologi industri, fermentasi mempunyai arti yang lebih luas, yang menggambarkan setiap proses untuk menghasilkan produk dari pembiakan mikroorganisme.

Fermentasi ialah proses perubahan kimia pada suatu substrat organik melalui aktivitas enzim yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Semua mikroorganisme membutuhkan sumber energi untuk hidup yang diperoleh dari metabolisme bahan pangan. Bahan baku energi yang paling banyak digunakan oleh mikroorganisme ialah glukosa. Produk akhir proses ini antara lain; sejumlah besar asam laktat, asam asetat, dan etanol, serta sejumlah kecil asam organik volatil lainnya; alkohol dan ester. (http://ardansirodjuddin.wordpress. com).




BAB III

METODE PENULISAN

A. Waktu dan Tempat Penulisan

Penelitian kepustakaan (libary reseach) ini dimulai sejak 01 Februari 2009, di perpustakaan Pusat Universitas Negeri Surabaya, perpustakaan Fakultas Ilmu Keolahragaan, perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam, dan perpustakaan Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya.

B. Teknik Penulisan

Teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini ialah teknik deskriptif yaitu mendeskripsikan proses fermentasi selulosa oleh mikroba rumen reminansia pada ampas tebu (sugar cane bagasse) sebagai sumber energi listrik alternatif masa depan.

C. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini ialah telaah literatur yaitu dengan mempelajari berbagai literatur seperti buku-buku dan sumber-sumber dari internet. Telaah literatur tersebut diharapkan mampu mendukung ide kreatif yang penulis munculkan dalam karya tulis ini.

D. Teknik Analisis Data

Analisa data dilakukan dengan menelaah data yang diperoleh dari studi literatur, menggabungkan teori dan pendapat di dalam buku atau literatur lainnya dan menyederhanakan data tersebut dalam bentuk yang mudah dibaca, dipahami, dan dipresentasikan, sebagai upaya mencari jawaban atas permasalahan yang diteliti.

E. Kerangka Berfikir




BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

A. Kandungan Ampas Tebu (Sugar Cane Bagasse) yang Berpotensi Sebagai Sumber Energi.

Ampas tebu mengandung beberapa zat yang berpotensi sebagai penghasil sumber energi alternatif yaitu serat selulosa dengan persentase sebesar 37,65%, lignin sebesar 22,09% dan pentosan sebesar 27,97% (menurut Husin, 2007).

Selulosa dan lignin merupakan karbohidrat (polimer) yang menyusun dinding sel tebu. Selulosa akan diuraikan oleh bakteri dengan bantuan enzim selulose menjadi bentuk yang sederhana yaitu glukosa (monomer). Lignin akan diuraikan oleh bakteri dengan bantuan enzim mono-oxygenase dan di-oxygenase menjadi bentuk yang sederhana yaitu glukosa (monomer).

Pentosan merupakan salah satu jenis polisakarida yang dapat diolah menjadi sumber energi berupa Furfural (C5H4O2) atau sering disebut dengan 2-furankarboksaldehid, furaldehid, furanaldehid, 2-Furfuraldehid. Furfural merupakan senyawa organik turunan dari golongan Furan. Senyawa ini berfasa cair, berwarna kuning hingga kecoklatan, dengan titik didih 161,7oC, densitas 1,16 g/cm3 pada suhu 200C. Furfural merupakan senyawa yang kurang larut dalam air namun larut dalam alkohol, eter, dan benzena. Furfural dapat diolah menjadi turunan-turunanya seperti Furfuril alcohol dan Furan (http://teknik-kimia2003.blogspot.com)

B. Jenis Mikroba yang Terdapat Dalam Rumen Ruminansia yang Dapat Dimanfaatkan Dalam Pembuatan Sumber Energi Alternatif.

Macam bakteri yang ditemukan dalam rumen ruminansia menurut Hungate (1966) diantaranya ialah (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens, Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati (Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica), (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).

Sedangkan macam protozoa yang ditemukan dalam rumen ruminansia menurut (Arora, 1989) diantaranya ialah Holotrichs yang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yang fermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia di sekitar mulut umumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna.

Kelompok fungi yang ditemukan dalam rumen ruminansia menurut Knapp, 1985 diantaranya ialah Trichoderma resei, T. viridae, Chaetomium, Fusarium, Aspergilus niger, Penicilium, Rhizoctonia dan Verticillium aktif menguraikan bahan organik selulosa.

C. Mekanisme Mikroba Rumen Ruminansia dan Ampas Tebu sebagai Sumber Energi Alternatif.

Proses pembentukan biogas dibantu oleh bakteri, protozoa dan fungi dalam rumen ruminansia. Ampas tebu dimasukkan ke dalam rumen ruminansia atau dimasukkan ke dalam reaktor yang diberi mikroba yang sudah diisolasi dari rumen ruminansia. Selanjutnya, akan terjadi serangkaian reaksi kimia untuk menguraikan selulosa, lignin dan pentosan.

Peran fungi dalam rumen ruminansia ialah membentuk koloni pada jaringan selulosa ampas tebu. Selanjutnya, rizoid fungi akan tumbuh menembus dinding sel tanaman sehingga lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen. Fungi Penicilium Chrysosporium dan Coriolus versicolor dalam reaksi oksidasi dan reaksi hydrolitik mendegradasi lignin pada ampas tebu menjadi rantai alifatik. Secara umum pengolahan biogas dari ampas tebu melalui tiga tahap utama yaitu hidrolisis, asidogenesis, dan metanogenesis.

1. Pengolahan Selulosa dan Lignin:

Tahap Hidrolisis:

Tahap pertama ialah hidrolisis, dimana pada tahap ini bahan-bahan organik seperti karbohidrat (selulosa dan lignin) didegradasi oleh mikroorganisme hidrolitik menjadi senyawa terlarut seperti gula sederhana, asam-asam amino, H2 dan CO2.

Reaksi kimia:

Selulosa glukosa + glukosa

Lignin glukosa + glukosa

Tahap Asidogenis:

(Glikolisis)

Tahap kedua yaitu tahap asidogenesis, dimana senyawa terlarut tersebut akan diubah menjadi asam-asam lemak rantai pendek, seperti asam piruvat oleh mikroorganisme asidogenik (Campbell, 2004).

Reaksi kimia:

Glukosa

ATP→ P + ADP

Glukosa 6 Fosfat

↓

Fruktosa 6 Fosfat

ATP→ P + ADP

Fruktosa 1,6 bifosfat

Tahap selanjutnya, Fruktosa 1,6 bifosfat akan di uraikan untuk menghasilkan asam piruvat sebagai bahan dasar fermentasi (anaerob). Fruktosa 1,6 bifosfat

liseraldehid 3 Fosfat Dihidroksiaseton Fosfat

2NAD + 2P→ 2 NADH

(Dua) 1,3 Bifosfogliserat

2ADP + P→ 2ATP

(Dua) 3 Fosfogliserat

(Dua) 2 Fosfogliserat

2H2O

(Dua) Fosfogliserat

2ADP + P→ 2ATP

(Dua) Asam Piruvat

Tahap Metanogenesis:

(Fermentasi : anaerob)

Tahap ketiga ialah metanogenesis, dimana pada tahap ini asam-asam lemak rantai pendek diubah menjadi H2, CO2, dan asetat (Campbell, 2004).

Reaksi kimia:

NADH + H+ NAD+

asam Piruvat Asam asetat + CO2

Asam asetat dehidrogenase

Asetat akan mengalami dekarboksilasi dan reduksi CO2, kemudian bersama-sama dengan H2 dan CO2 menghasilkan produk akhir, yaitu metana (CH4) dan karbondioksida (CO2). Metana yang dihasilkan ini merupakan biogas yang berpotensi sebagai sumber energi.

2. Pengolahan Pentosan:

Pentosan (polisakarida) diolah menjadi Furfural (C5H4O2). Furfural diolah dari ampas tebu melalui 2 tahap reaksi yaitu hidrolisis dan dehidrasi. Dalam pembuatannya digunakan bantuan katalis asam seperti asam sulfat. Pembuatan Furfural dapat berlangsung dalam siklus batch maupun kontinyu. Melalui proses Batch; ampas tebu dimasukkan ke dalam 1 reaktor, pada kondisi atmosferik 128-1500C dan dilakukan pemurnian melalui distilasi azetropik. Sedangkan dalam proses kontinyu, ampas tebu dimasukkan ke dalam 2 reaktor, pada tekanan ±68 atm dan suhu tinggi, serta dilakukan pemurnian melalui ekstraksi dan distilasi.

Proses pengolahan Furfural juga menghasilkan produk samping. Jenis hasil samping tersebut dapat berupa glukosa, asam asetat, atau panas. Glukosa dan asam asetat yang dihasilkan dari hasil samping ini juga dapat diproses kembali melalui tahap hidrolisis, tahap asidogenis dan tahap metanogenesis untuk menghasilkan metana (CH4) sebagai sumber energi alternatif masa depan (http://teknik-kimia2003.blogspot.com).

Efektivitas biogas hasil pengolahan mikroba rumen ruminansia dan ampas tebu (sugar cane bagasse) ini belum diteliti lebih lanjut. Tetapi diperkirakan biogas yang dihasilkan dari sampah organik dengan kandungan serat selulosa dan lignin yang tinggi, akan memiliki kandungan metana yang tinggi pula. Sebagaimana hasil Penelitiannya Zhang et al. 1997, menunjukkan bahwa sampah organik dengan kandungan selulosa tinggi dapat menghasilkan metana sebesar 50-80% dan karbondioksida 20-50%. Sedangkan penelitian Hansen (2001), dalam reaktor biogasnya dihasilkan sekitar 60-70% metana, 30-40% karbon dioksida, amonia, hidrogen sulfida, merkaptan (tio alkohol) dan gas-gas lainnya (http://www.chem-is-try.org).




BAB V

PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan analisi dan sintesis di atas, maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Kandungan ampas tebu (sugar cane bagasse) yang berpotensi sebagai sumber energi ialah serat selulosa, lignin dan pentosan.
  2. Jenis mikroba yang terdapat dalam rumen ruminansia yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan sumber energi alternatif diantaranya; bakteri (bakteri pencerna selulosa, bakteri pencerna hemiselulosa, bakteri pencerna pati, bakteri pencerna gula dan bakteri pencerna protein), protozoa (Holotrichs dan Oligotrichs) dan fungi (Trichoderma resei, T. viridae, Chaetomium, Fusarium, Aspergilus niger, Penicilium, Rhizoctonia dan Verticillium).
  3. Mekanisme mikroba rumen ruminansia dan ampas tebu untuk menghasilkan sumber energi alternatif ialah menguraikan selulosa dan lignin dengan tiga tahap (hidrolisis, asidogenesis, dan metanogenesis), sedangkan pentosan diolah menjadi Furfural dan turunannya (Furfuril alkohol dan Furan).

B. Saran

Saran yang penulis ajukan dalam penyusunan karya tulis ini ialah sebagai berikut:

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efektivitas biogas yang dihasilkan dari penguraian ampas tebu oleh mikroba rumen ruminansia.

2.

24

Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi mikroba dari rumen ruminansia dan membuat reaktor berskala industri untuk mengolah sampah organik dari ampas tebu dengan mikroba rumen ruminansia tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007. b. Komposisi Ampas Tebu, (online), (http://teknik_kimia.blogspot. com/2007-07-01-archive.html, diakses tanggal 5 Februari 2009).

Campbell, Neil A. et al. 2004. Biologi Edisi 5. Rahayu Lestari, Ellyzar I. M. Adil, Nova Anita, penerjemah. Jakarta: Erlangga.

Furedy C. 1994. Decentralized composting : An emergencing technique of solid waste management. ASEP Newsleter 10(1): 1-12.

Husin, 2007.Analisis Serat Bagas, (online), (http://www.free.vlsm.org/, diakses tanggal 6 Februari 2009).

Rismani, Yazdi.2008.Penelitian di Ohio State University, (online), (http://www.trubus-online.co.id/mod.php?mod, diakses tanggal 6 Februari 2009).

Sastrowijoyo.1998.Klasifikasi Tebu, (online), (http://arluki.wordpress.com/2008 /10/14/tebu-sugarcane/, diakses tanggal 8 Februari 2009).

,2009. Daerah Tumbuh Tebu, (online), (http://ciciarendy.multiply.com/ journal/item/6/ Tebu, diakses tanggal 8 Februari 2009).

,2009. Rumen Hewan Ruminansia, (online), (http://www.free.vlsm.org/, diakses tanggal 10 Februari 2009).

,2009. Mikroba Ruminansia, (online), (http://al-firqotunnajiyyah. blogspot.com/2008/08/suaka-marga-ikroba.html, diakses tanggal 10 Februari 2009).

,2009. Macam Mikroba Dalam Rumen Ruminansia, (online), (http://irenzobeckham.wordpress.com/2006/11/15/mikroba-dalam-rumen-sapi/, diakses tanggal 10 Februari 2009).

,2009. Penguraian Selulosa dan Lignin oleh Mikroba Rumen Ruminansia, (online), (http://www.alumni.ugm.ac.id/, diakses tanggal 12 Februari 2009).

,2009. Jenis Sampah, (online), (http://www.dephut.go.id/, diakses tanggal 12 Februari 2009).

Hansen. 2001. Penelitian Biogas Dari Sampah Organik, (online), (http://www.chem-is-try.org/, diakses tanggal 12Februari 2009).

Hammad et al, 1999. Sampah Organik Penghasil Biogas, (online), (http://www.chem-is-try.org/, diakses tanggal 12Februari 2009).

,2009. Fermentasi_Anaerob, (online), (http://ardansirodjuddin. wordpress. com, diakses tanggal 14 Februari 2009).

,2009. Biogas, (online), (http://teknik-kimia2003.blogspot.com/, diakses tanggal 14 Februari 2009).